Selasa, 27 Januari 2009

Bekam dan kedokteran

Posted by tonang on Nov 19th, 2008

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat “tugas” mengisi kultum setelah sholat Subuh di Perum UNS Jati. Saya sebut “tugas” karena bagi saya, itu cara para senior - keimanan, usia, ilmu maupun yang lain - untuk memaksa saya belajar. Semalaman saya bingung akan mengisi apa. Ini merupakan tugas ke 3 saya mengisi kultum. Yang pertama dulu, pas Ramadhan, saya isi soal manfaat sholat dari sisi kesehatan/kedokteran. Kesempatan kedua, saya pilihkan hasil bacaan dari buku “Matematika Al Qur’an”. Harapannya, materi kultum memiliki core theme yang sejalan - kira-kira - Islam dan Ilmu Pengetahuan. Atau sebenarnya, sebatas kemamapuan saya, di bidang kesehatan/kedokteran.

Setelah bingung dan semakin bingung - maklum cupet sekali ilmunya - saya menemukan topik bekam.Tapi apa hubungannya untuk kultum? Topik ini menarik. Semakin banyak dibuka klinik-klinik bekam. Saya telusuri informasinya di internet, termasuk beberapa rekaman video dan foto pelaksanaan bekam. Dasar yang dipakai adalah dalil agama (Hadist Nabi - sejauh yang saya temukan, mohon dikoreksi).

Nama lain teknik bekam ada beberapa: Hijamah, capping therapy, leach therapy dll. Dari beberapa paparan, prinsip utamanya adalah membersihkan darah dari timbunan kotoran dan darah yang statis. Tempat pengambilannya di beberapa tempat tertentu. Diyakini, pembersihan darah kotor di titik-titik tersebut berhubungan dengan penyembuhan beberapa penyakit - ada yang menyebut sampai 72 macam penyakit.

Terus terang, kening saya berkerut. Teknik bekam dengan dasar pemikiran tersebut, berkembang dalam praktek kedokteran di masa-masa awal perkembangan dulu. Tapi setelah berkembangnya pemamahan antara agent-host-pathogen, konsep penyembuhan bergeser ke penyakit dan agen penyebabnya. Dengan konsep ini, tindakan pembersihan darah dengan mengeluarkannya di satu titik, sulit diterima lagi. Tubuh kita memiliki 4-5 L darah. Bagaimana ini bisa dibersihkan hanya di beberapa titik?

Di beberapa situs saya mendapatkan penjelasan tentang pertanyaan itu. Secara fisiologis, tubuh memiliki organ ginjal untuk melakukan filtrasi darah. Juga organ hati yang melakukan detoksifikasi terhadap toksin yang masuk tubuh. Konsep bekam menjelaskan bahwa bagaimanapun kotoran dalam darah tidak bisa disaring sepenuhnya oleh organ-organ tersebut. Akibatnya terjadi penumpukan kotoran yang - masih menurut konsep tersebut - berada di titik-titik tertentu. Karena itu, diperlukan tindakan pembersihan dengan cara bekam tersebut.

Sebagai sebuah disiplin ilmu, kedokteran menuntup prinsip logiko-hipotetiko-verifikatif. Konsepnya harus bisa dijelaskan secara logis. Dalam beberapa hal, bekam - bagi saya yang dibesarkan dengan konsep logis tadi - menyisakan banyak ruang yang masih “gelap”. Ruang ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjelaskan. Karena itulah, sulit untuk menerima konsep tersebut.

Situs-situs tentang bekam juga mengkaitkan bekam dengan praktek terapi sejenis yang sekarang masih dipraktekkan. Leach therapy menggunakan lintah disebut-sebut berkonsep sama dengan bekam. Sepanjang yang saya ketahui, lintah memang masih digunakan pada kasus tertentu di bidang operasi mikro (restorasi jaringan tangan, kaki yang hancur, dsb). Lintah digunakan karena ketika menggigit dan menghisap darah, dia mengeluarkan zat yang bersifat anti-koagulan (mencegah pembekuan darah). Adanya cairan tersebut membantu memperlancar aliran darah ke sirkulasi mikro di medan operasi tersebut. Saya kira konsep ini tidak sama dengan konsep bekam.

Saya coba menelusuri kaitan bekam dengan Ibnu Sina, cendekiawan muslim bidang kedokteran, yang bahkan Universitas-universitas terkemuka di Paris pun memajang gambarnya di ruang utama mereka. Sejauh yang bisa menelusuri, ternyata belum saya temukan kaitan Ibnu Sina dengan praktek bekam tersebut. Justru beliau sangat dikenal mempelopori pengembangan konsek-konsep agen dan penyakit.

Sampai di sini saya bingung. Bekam atau Hijamah mendasarkan pada dalil agama. Ilmu kedokteran mendasarkan pada ciri logis (disiplin ilmu). Haruskah saya memilih salah satu dari keduanya. Perenungan saya berhenti pada kesimpulan bahwa keduanya tidak perlu saling dipertentangkan. Yang penting, jangan saling mencela. Tidak perlu memilih bekam dengan melabelkan kata “dokter sudah angkat tangan”. Komunitas dokter pun tidak perlu apriori. Justru seharusnyalah kita saling terbuka. Bukan tidak mungkin, kebersamaan itu akan membuka jalan untuk mengungkap konsep sebenarnya dari bekam tersebut. Kita bisa belajar banyak dari bahasan mengenai topik Obat Herbal terdahulu.

Sementara itu, perkenankan saya sumbang saran. Agar perkembangan bekam lebih produktif, perlu kiranya memperhatikan beberapa hal:

  • Penataan diri sebagai sebuah “disiplin” ilmu: standarisasi konsep dasar, badan/lembaga pengemban tugas pengembangan ilmu
  • Penataan praktek pelayanan bekam: standar profesi (registrasi, legislasi, syarat kompetensi), standar pelayanan/prosedur standar pelayanan. Seperti yang terlihat di sebuah rekaman di youtube, ada yang mempraktekkan bekam dengan - maaf - silet yang biasa digunakan untuk mencukur kumis. (”Ada” itu artinya saya berharap itu bukan standar praktek umum).
  • Usaha pengembangan menuju suatu sistem pendidikan, seperti juga bidang akupuntur yang mulai memantapkan posisinya - meski masih dengan perdebatan - dalam sistem pendidikan kesehatan (sudah ada lembaga pendidikan khusus, ada poliklinik khusus di RS, bahkan mulai diperkenalkan adanya spesialis akupuntur).
  • Bersama-sama dengan perkembangan modalitas terapetik sejenis lainnya, pemerintah harus mulai - atau tepatnya kembali harus - memberi perhatian. Jangan sampai ketidak pedulian pemerintah mengawasi dan membina, menempatkan masyarakat - pengguna maupun penyedia jasa layanan terapi tersebut - yang menjadi korban.

Saya mengusulkan itu, justru - dalam bayangan saya - menghindari perkembangan yang kontraproduktif. Sekarang banyak klinik bekam, banyak tawaran kursus bekam dan ada kecenderungan sulitnya beranjak dari pemahaman bekam dengan dasar dalil agama. Masalahnya, seperti standar tempat dan layanan klinik bekam? Siapa yang memiliki otoritas ilmiah untuk memberi kursus bekam? Seperti apa legislasinya? Registrasinya? Syarat kompetensinya? Penjelasan ilmiah yang coba diajukan tentang bekam, juga masih terbatas (sekali lagi, ini dalam kacamata disiplin ilmu). Bila kondisi ini tidak diperhatikan, saya khawatir kita akan seperti jalan di tempat. Padahal, maaf kalau berlebihan, perkembangan bekam ini menempatkan agama sebagai - paling tidak partially - taruhannya. Maksud saya, bukan tidak mungkin masalah agama terbawa-bawa bila ada hal yang bersifat negatif dalam perkembangannya. Dan itu concern saya sebenarnya.

Soal bahwa sampai sekarang kita - atau lebih tepat mungkin saya - belum sanggup memahami soal bekam, mungkin inilah pelajaran bagi saya bahwa ilmu manusia memang sangat terbatas. Bukan tidak mungkin - dan saya sangat berharap - suatu saat, ruang-ruang “gelap” itu akan terbuka.

Dan inilah yang akhirnya saya pilih jadi topik kultum pagi itu.

Bekam untuk 72 Penyakit


Oleh arixs
Selasa, 06-September-2005, 15:46:06 3977 klik Sampaikan Kisah ini kepada Temanmu Versi Cetak

Inilah cara pengobatan baheula yang kini mulai digemari kembali. Namanya bekam. Awalnya, konon, sistem pengobatan ini dimulai pada zaman Babylonia. Ia berkembang di Cina, India, dan Arab. Di Indonesia, di tahun 1950-1970-an bekam juga cukup dikenal dan konon mampu mengobati 72 jenis penyakit.

Pada prinsipnya, bekam adalah upaya untuk mengeluarkan darah-darah yang menggumpal sehingga mengganggu kelancaran peredaran darah dalam tubuh. “Ada titik-titik khusus dalam tubuh tempat darah mengalir dan berhubungan langsung dengan organ tubuh,” ungkap Ansar, pengusaha magic glasses yang kini menghabiskan waktu menekuni bekam. Bila kelancaran darah itu terganggu karena terjadinya penggumpalan, maka berbagai penyakit pun muncul, mulai dari stroke, ginjal, jantung koroner, dll.
Dengan metode “penyedotan” darah menggumpal (bekam) itu, maka darah akan kembali mengalir deras dan organ tubuh pun dapat difungsikan secara optimal kembali.
Zaman baheula, bekam dilakukan dengan menggunakan tanduk sapi atau kerbau yang telah dibersihkan. Bagian rongga dalam tanduk dipanasi lalu ditelunkupkan ke bagian tubuh yang hendak dibekam. Kulit dan darah pun tersedot. Beberapa saat kemudian tanduk dilepas dan bagian kulit yang telah menonjol karena disedot tadi ditoreh-toreh dengan benda tajam. Setelah itu tanduk dapanasi lagi dan ditelungkupkan lagi pada kulit yang telah ditoreh. Darah pun keluar. Bila ada penyumbatan, maka darah yang keluar tampak kental seperti jelly.
Kini sistem bekam telah memasuki era modern. Alat bekamnya pun bukan lagi tanduk, tetapi gelas khusus yang dihubungkan dengan alat vakum udara seperti yang digunakan Ansar. Alat vakum itulah yang menyedot kulit dan darah. Sedangkan benda tajam yang dipergunakan untuk menusuk-nusuk kulit adalah jarum kecil steril sekali pakai yang biasa digunakan untuk mengambil sample darah pada ujung jari tangan. “Kalau tidak steril begini bisa saja nanti terjadi penularan virus,” tutur Ansar.
Harap maklum, kini sistem bekam memang tidak lagi urusan perdukungan. Di Mesir dan Karachi, sebuah fakultas kedokteran secara khusus mengembangkan sistem ini. Kita pun pernah membaca seorang dokter di Inggris dan AS menggunakan lintah untuk menyedot darah pasiennya agar penyumbatan darah dapat dihentikan. Fungsi penyedotan oleh lintah itu tak ada bedanya dengan bekam.
Ansar memang tidak berwajah dukun sama sekali. Lelaki yang pernah 10 tahun tinggal di Australia itu paham benar soal higienitas. “Yang sulit dari sistem ini adalah mempelajar titik-titik bekam. Titik-titik itu menyebar di seluruh tubuh,” kata Ansar. Karena itu, untuk penyakit tertentu pembekaman dilakukan di kepala. Tentu saja kepala harus digundul dulu.
Seorang mantan pejabat bank pemerintah yang telah berusia 61 tahun telah empat kali melakukan pembekaman di tempat Ansar. Berbagai penyakit yang diderita lelaki itu pun secara spontan bisa berkurang. Ia, misalnya, mengalami tekanan darah tinggi. Setelah dibekam, hanya dalam waktu 1 jam tekanan darahnya turun dari 185 menjadi 140. Lucunya, si pensiunan tadi minta agar keperkasaannya bisa dipulihkan. “Kita tahu, keperkasaan akan muncul kalau darah menglir deras ke penis. Tinggal angkat saja penyumbatnya,” kata Ansar sambil membekam si pensiunan bank itu. Tak lama kemudian “alat” si bapak pun mencuat dan bertahan lebih dari 10 menit.
Tokoh mencoba “keistimewaan” bekam. Derita kelelahan di pundak selama bertahun-tahun tiba-tiba lenyap dalam waktu 2 jam.
Ajaib, memang.
Ada efek samping? “Hampir tidak ada,” kata Ansar. —swa

MANFAAT BEKAM

Titik bekam pada umumnya adalah untuk meringankan gangguan pada organ dan syaraf bila di-bekam pada tempat gangguan, terutama karena gangguan kelebihan darah atau darah kotor atau kedua-duanya. Titik-titik bekam yang disukai Rasulullah SAW, yaitu :

Bekam atas dua urat leher :

  • Mencegah sakit kepala.

  • Mencegah sakit di wajah.

  • Mencegah sakit gigi.

  • Mencegah sakit telinga.

  • Mencegah sakit hidung.

  • Mencegah sakit kerongkongan.

Bekam pada tengkuk / kuduk :

  • Mencegah tekanan darah pada tengkuk.

  • Mengatasi rabun.

  • Mengatasi benjolan di mata.

  • Mengatasi rasa berat pada alis dan kelopak mata.

  • Mengatasi penyakit mata lainnya.

  • Mengobati lepra.

  • Mengobati berbagai macam penyakit.

Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim bahwa : "Rasulullah SAW pernah menggunakan hijamah (bekam) atas tiga bagian tubuh, bagian atas tulang belakang dan atas dua urat leher."

Bekam pada pelipis :

  • Mengobati sakit kepala.

  • Mengobati sakit di wajah.

  • Mengobati sakit telinga.

  • Mengobati sakit hidung.

  • Mengobati sakit kerongkongan.

Bekam pada pundak :

  • Mengobati penyakit di pundak.

  • Mengobati sakit di leher.

Diriwayatkan dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan bekam sebanyak 3 kali pada 2 pelipis dan pundaknya.

Bekam di atas pinggul :

  • Menghilangkan pegal-pegal.

  • Menghilangkan kelelahan.

Dalam Sunan Abu Dawud disebutkan dari hadist Jabir bahwa Rasulullah SAW pernah melakukan bekam di bagian atas pinggulnya karena sakit pegal-pegal yang dideritanya.

Bagian lain tubuh boleh di-bekam sesuai tempat sakitnya selama bukan area yang dilarang di-bekam.

Haruskah sebulan sekali kita di-bekam ?
Jika kita ingin terbebas dari gangguan penyakit yang diakibatkan darah kotor atau sebagai tindakan penjagaan dan kewaspadaan kita terhadap penyakit, maka sangat baik bekam dilakukan sebulan sekali.

Dan agar tubuh kita lebih sehat lagi, maka lebih baik setiap hari kita minum herba kapsul Antitoxin Plus atau herba lainnya yang berkaitan dengan pembuangan toxin (racun) dari dalam tubuh.

PENGECUALIAN BEKAM

Orang-orang yang tidak boleh di-bekam :

  • Bayi hingga anak usia 3 tahun.
  • Orang tua renta yang sakit tanpa daya dan upaya.
  • Penderita tekanan darah sangat rendah (dianjurkan minum Hersida dari SALWA).
  • Penderita sakit kudis.
  • Penderita diabetes mellitus (dianjurkan minum Antitoxin Plus dari SALWA).
  • Perut wanita yang sedang hamil.
  • Wanita yang sedang haid.
  • Orang yang sedang minum obat pengencer darah.
  • Penderita leukemia, thrombosit, alergi kulit serius.
  • Orang yang sangat letih / kelaparan / kenyang / kehausan / gugup.

Anggota bagian tubuh yang tidak boleh di-bekam :

  • Mata, telinga, hidung, mulut, puting susu, alat kelamin, dubur.
  • Area tubuh yang banyak simpul limpa.
  • Area tubuh yang dekat pembuluh besar.
  • Bagian tubuh yang ada varises, tumor, retak tulang, jaringan luka.

ALAT BEKAM

Ketika Rasulullah SAW melakukan bekam, beliau menggunakan kaca yang berupa cawan atau mangkuk. Dengan demikian jelaslah sudah bahwa teknik bekam dan peralatannya sudah ada dan dipraktekkan sendiri oleh Rasulullah.

Pada zaman China kuno, bekam disebut sebagai "pengobatan tanduk" karena tanduk menggantikan kaca. Pada abad ke-18, orang-orang di Eropa menggunakan lintah sebagai alat untuk berbekam.

Kini peralatan yang digunakan sebanding dengan perubahan zaman, dan teknologi tinggilah yang diakui dan digunakan dalam pengobatan berbekam oleh para dokter di rumah sakit.

Peralatan bekam yang digunakan di Rumah Herba FANELIA :

  • Penghisap (hand pump).
  • Mangkuk (cupping set).
  • Pena Jarum (lancet device).
  • Jarum (lancet).
  • Antiseptik (bahan sterilisasi seperti alkohol).
  • Sarung tangan kesehatan (rubber gloves).

WAKTU PALING BAIK UNTUK BERBEKAM

Sebaiknya berbekam dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor berhimpun dan lebih terangsang (darah sedang pada puncak gejolak). Anas bin Malik r.a. menceritakan bahwa : "Rasulullah SAW biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Beliau melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau keduapuluhsatu." (Diriwayatkan oleh Ahmad).

Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan. Dalam hal ini Imam Ahmad melakukan bekam pada hari apa saja ketika diperlukan. Hal ini berdasarkan ucapan Rasulullah SAW : "Jangan sampai mengalami ketidakstabilan darah, karena itu bisa mematikan."

Imam asy-Syuyuthi menukil pendapat Ibnu Umar, bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya

JENIS BEKAM

  • Bekam kering atau bekam angin (Hijamah Jaaffah), yaitu menghisap permukaan kulit dan memijat tempat sekitarnya tanpa mengeluarkan darah kotor. Bekam kering ini berkhasiat untuk melegakan sakit secara darurat atau digunakan untuk meringankan kenyerian urat-urat punggung karena sakit rheumatik, juga penyakit-penyakit penyebab kengerian punggung. Bekam kering baik bagi orang yang tidak tahan suntikan jarum dan takut melihat darah. Kulit yang di-bekam akan tampak merah kehitam-hitaman selama 3 hari. Dan Insya Allah sangat baik diolesi minyak Syifa Habbassauda dari SALWA untuk menghilangkan tanda lebam pada kulit yang selesai di-bekam.

  • Bekam basah (Hijamah Rothbah), yaitu pertama kita melakukan bekam kering, kemudian kita melukai permukaan kulit dengan jarum tajam (lancet), lalu di sekitarnya dihisap dengan alat cupping set dan hand pump untuk mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Lamanya setiap hisapan 3 sampai 5 menit, dan maksimal 9 menit, lalu dibuang darah kotornya. Penghisapan tidak lebih dari 7 kali hisapan. Darah kotor berupa darah merah pekat dan berbuih. Insya Allah bekasnya (kulit yang lebam) akan hilang 3 hari kemudian setelah diolesi minyak Syifa Habbassauda dari SALWA. Dan selama 3 jam setelah di-bekam, kulit yang lebam itu tidak boleh disiram air. Jarak waktu pengulangan bekam pada tempat yang sama adalah 3 minggu.